Hukum Imunisasi

Kali ini ane mau share kepada ikhwah(saudara) sekalian mengenai hukum melakukan imunisasi. Kenapa ane memilih masalah ini untuk diangkat, karena ane sedih, ada sebagian orang yang masih bingung mengenai imunisasi mengingat ada saudara lain kita yang melarang dan ada pula yang menganjurkan. Bukankah masalah ini sebenarnya masih diperdebatkan oleh para ulama yang lebih dalam keilmuannya dari pada kita? Karna dengan adanya informasi yang kurang jelas atau ada faktor lain yang mengakibatkan para orang tua menjadi ragu dan takut untuk memberikan imunisasi pada anaknya.

Berharap semoga adanya tulisanku ini, bisa memberikan manfaat pada kita semua. Amiin,

Berikut ini, adalah fatawa dari ulama syaikh abdulah bi baz yang dikutip dari kitab fatawa al Muta’alliqah bi ath thibbi wa ahkami al Marda  yang pernah pula dimuat pula di majalan As Sunah edisi 03 tahun 2006 kemudian diketik ulang oleh ummuhanah yang manis.

Soal:

Apakah hukum berobat dengan imunisasi sebelum tertimpa penyakit?

Jawab:

La ba’sa (tidak mengapa) berobat dengan cara seperti ini jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainya. Tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis shahih (yang artinya):

Barang siapa memakan tujuh butir kurma madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun.

Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebeluim terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya penyakit dan dilakukan imunisasi untuk melawan penyakit yang muncul disuatu tempat atau dimana saja, maka hal itu tidak menjadi masalah, karena hal itu termasu tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang sudah datang di obati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.

Tidak boleh mengunakan jimat-jimat untuk menghindari penyakit, jin atau pengaruh mata yang jahat. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melarang dari perbuatan itu, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan itu termasuk syirik kecil, kewajiban kita harus menghindarinya.

2 thoughts on “Hukum Imunisasi

  1. mampir nich dhe.. abis jalan2 kesana kemari trus tergelitik dgn posting yg inih. kayaknya termasuk ana juga nih yg berbingung2 ria dalam masalah imunisasi ini.. apa pasal? kebanyakan dengar pendapat n jajak pendapat kali ya.. masalahnya urgent buatku untuk benar2 tahu apa2 yg kumasukkan dlm tubuh anakku adalah halal dan thoyib. krn kelak aku dimintai pertanggung jawaban dlm hal ini. slain itu apa2 yg masuk ke tubuh anak akan mempengaruhi akhlaq dan karakternya.. maka kudu diperhatikan benar yg masuk HANYA yg baik2 dan halal.

    naah kita balik ke fatwa di atas.
    di sana tidak disebut detail karakteristik imunisasi yg dipakai, aplagi dipaparkan kondisi, kandungan dalam vaksin yg umum di pakai. bahkan syaikh menulis bhwa “Barang siapa memakan tujuh butir kurma madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun. ” hal ini meng indikasikan tdk khusus fatwa tsb untuk vaksin versi kita sekarang. makanya ana agak gamang klo harus memakai fatwa ini untuk memperkuat pembelaan vaksinansi.

    selanjutnya..
    teman2 dokter dijogja waktu ini berdiskusi dgn UStadz Kholid Syamhudi Lc tentang boleh tidaknya vaksin ini, dgn dijelaskan secara detai spesifikasi, efek samping, dan kandungan vaksin. apa jawaban ustadz? jika ternyata seperti itu detainya maka sebaiknya dihindari vaksin ini dan bertawakallah dgn sesuatu yg jelas kehalalnnya.

    nah lo…

    tp ana tanya ust arifin badri waktu jamn kulian dulu dibolehkan, krn manfaatnya besar. tp waktu itu memang tdk ana jabarkan secara detail spek vaksinnya.

    gitu lah.. piye jal? piye jal?

  2. lha…
    mba Za aja yang saya yakin lebih dalam keilmuannya masih gamang, apa lagi saya?
    yang baru kemaren sore mencari ilmu keliling jakarta:)
    terimakasih banyak atas masukannya, semoba Allah memberkahi mba dan keluarga…
    BTT: saya tidak akan terlalu banyak membahas masalah material imunisasi,karena terlalu lebar dan saya takut jatuh dalam kesalahan berkata-kata. siapalah saya mba, hanya seorang fakir yang dhoif:(
    selama ane mengaji, memang berbagai jawaban dari ustadz tidak sama. ada yng membolehkan dan tidak sedikit yang menolak. namun, itu kembali pada kondisi kita masing-masing. saya tidak mau menyibukkan diri dalam perdebatan ini, karena ada orang yang lebih berilmu yang lebih pantas untuk berhujah.Peace he he…. saya memahami pendapat mba, tafadhol jika itu pilihan mba.disini saya pernah minta pendapat kepada beberapa dokter spesialis anak di klinik tempat saya yang saya yakin paham betul seluk beluk vaksin dan alhamdulillah mereka adalah muslimah. mereka menganjurkan untuk memberikan suntikan vaksin mengingat kondisi pasien kami yang 80% adalah bayi pengemis dan pemulung. tindakan ini dapat membantu mereka dimana lingkungan mereka jauh dari higienis dan sehat. alhamdulillah,
    jadi intinya, jika seorang anak hidup di lingkungan yang cukup kondusif seperti halnya Raihan, mungkin tidak begitu memerlukan imunisasi. lalu bagaimana dengan anak-anak pemulung dan pengemis?
    CMIIW…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s