Bidan incompetent

Teringat ucapan seorang sahabat ketika kuliah dulu (Oling rahmawati) ketika membicarakan materi persalinan lama. Dia berkelakar kira-kira begini: pokonya besuk kalau sudah 10 jam anakku tidak lahir, lewat jalan pintas saja. Pikir saya saat itu, ini orang tidak mau direpotkan atau terlalu khawatir sama anaknya ya? Masih ada 2 jam sisa, tidak mau menunggu ling?siapa tau 2 jam lahir….

Beda lagi dengan pasienku 3 tahun yang lalu, seorang ibu persalinannya sudah lewat 2 jam kurleb. Dari awal ketika akan dirujuk ibu mertuannya melarang dan sempat mengatakan bidannya tidak terampil dan main rujuk saja. Segala kemungkinan sudah dijelaskan sedetil-detinya, malah ibu mertuanya mengatakan dulu anaknya juga lama lahirnya malah lebih lama dari ini dan sekarang ananya sehat-sehat saja.

Sebagai seorang bidan, tentu harus dituntut secakap mungkin menghadapi segala kesulitan yang muncul. Bukan berarti lulus dari akademi ilmu yang didapat juga berhenti, masih perlu banyak belajar. Semakin banyak belajar harus semakin memahami, Sehingga dampak-dampak yang ditimbulkan tidak merugikan berbagai pihak.

Ya kalau memang sudah bukan kewenangan kita sehingga harus dirujuk ke fasilitas yang lebih tinggi, ya lakukan saja. Jangan terlalu memikirkan penilaian masyarakat bahwa kita kurang terampil, biasanya anggapan itu lambat laun pudar seiring jalanya waktu. Bukankah kebaikan pasien dimasa yang akan datang lebih berharga daripada segenggam meteri?

Sedikit cerita lagi, seorang pasien hendak melahirkan di bidan X di dampingi keluarganya yang kebetulan salah satu keluarga mereka berprofesi pegawai puskesmas. Karena proses persalinan sudah lewat dari waktu yang ditetapkan maka bidan memutuskan untuk merujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih memadai.

Tebak apa kata keluarganya, tidak ada tanda bahaya pada ibu ini kenapa main rujuk? Coba dilahirkan disini dulu ibu, saya sering mendengar kejadian seperti ini dan bisa lahir juga ahirnya. Karena bidan itu mendapat ‘tekanan’ ahirnya dicoba ditunggu yang pada dasarnya malah menambah angka kesakitan bagi pasien.

Setelah beberapa waktu ditunggu, tidak lahir juga ahirnya dirujuk ke rumah sakit. Disana ibu harus dioperasi karena indikasi panggul sempit. Apakah masalah sampai disitu? Tidak, beberapa bulan setelah dilahirkan bayi tersebut suka ngiler/ngeces/air liur keluar sampai usia 2 tahun.

Bayi itu diperiksakan ke dokter spesialis anak, hasilnya ternyata ada kerusakan syaraf  di kepalanya akibat terbentur dengan tulang ibu sewaktu proses bersalin. Beruntung anak tersebut lahir dari keluarga yang berkecukupan, terapi 2 minggu sekali selama beberapa bulan sanggup dilakoni. Itupun hasilnya tidak normal 100% layaknya anak-anak yang lain tapi sudah mendingan keadaanya (kata ibunya). Sungguh harga yang sangat mahal dibanding biaya lahiran dulu.

Selanjutnya, ketika seorang bidan sudah di dedikasikan diri untuk menjadi pendamping dalam persalinan maka hendaklah dengan sikap sabar dan penuh keridhoan memberikan pertolongan semampunya. Berani mengorbankan setiap undangan walimahan ketika ada seorang pasien yang membutuhkan pertolongan kita. Meskipun mobil telah siap, kebaya telah melekat, sendal jinjit tinggal slop, dan lipstik yang merona hampir pudar. Dan yang punya hajat walimahan sangat diharapkan pengertiannya, untuk kemudian menjadi maklum bahwa menolong persalinan juga membutuhkan energi yang banyak. Jadi, mengirim nasi kebuli ke tempat bidan adalah tindakan terpuji.

 

 

3 thoughts on “Bidan incompetent

  1. salut sama mba. semoga semua bidan punya tanggung jawab dan kepedulian seperti mba. karena aku juga pernah dapat cerita dari kakak ipar yang bersalin di bidan dan dia kapok lahiran di bidan, mba. aku jadi khawatir juga persalinanku yang rencananya lahir agustus 2011 ini apakah cukup di bidan atau di rumah sakit.

    nah, mba, perkiraan persalinanku ini jatuh pada 30 agustus 2011, tepat saat Idul Fitri. Mba mau ga menolong saya nanti?? Hehehe…

  2. sebenarnya kita sendiri mempunyai pedoman dasar setiap tindakan dalam semua praktik kebidanan,seperti pada persalinan ada yang namannya APN(asuhan persalinan normal)yang mana jika bidan benar2 menjalannkannya maka akan menguntungkan semua pihak.
    kita juga diharuskan mengisi partograf karena disitu, ada batasan kapan dan saat bagaimana ibu yang bersalin diberi pertolongan atau harus dirujuk.
    saran saya, kenalilah dahulu calon pendamping anda.
    ::pendamping persalinan maksud saya he he:: selanjutnya keputusan ada ditangan anda,

    btw, yg namanya HPL itu tidak selalu tepat kok mba. semoga aja lahirannya habis lebaran saat saya dah sampai perantauan lg. lumayan buat tambah doku habis mudik.harga special deh buat mba ratih(baca*tarif VVIP pelayanan ekonomi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s