
Untuk hati yang saya percaya akan membaik seiring berjalannya waktu…
Entah esok pagi entah nanti, namun saat ini saya berdiri diatas keraguan apakah bisa mengering luka ini.
Untuk mereka yang memang membenci atau mereka yang mencintai tapi dikalahkan oleh gengsi.
Disini,
Ya hanya terfikirkan disini saya menumpahkan rasa dan air mata kesedihan ini.
Meskipun mungkin tak saya temukan solusi, tetapi setidaknya mengurangi beban dihati.
Sekarang saatnya menata kembali hati yang kemarin berserakan. Kuraih kepingan yang terlepas.
Saya tahu, saya harus banyak bersabar untuk merangkai hingga menjadi utuh kembali….
Ummuhanah, bulan maret ditahun ke 11 setelah blog ini dibuat.
Mungkin anda pernah dibenci atau tidak disukai seseorang tanpa tahu sebabnya, atau mungkin anda disalahkan seorang diri tanpa atas kekacauan yang terjadi. Rasanya sakit,
Tetapi…
Ternyata ada yang lebih menyesakkan dada yaitu saat sahabat yang sangat anda sayangi berbohong hanya demi g.e.n.g.s.i
Yang terjadi sebenarnya, saya ditawari naik mobil beliau untuk pergi kesebuah tempat. Yap, pergi menuntut ilmu syar’i. Honestly, ada rasa tidak enak dalam hati seakan mengatakan tidak. Toh memang diawal saya sudah berniat membawa mobil sendiri. Tetapi buru buru saya tepis rasa janggal dihati itu.
Continue reading

Sebagai umat muslim, sering kita mendengar kisah kehidupan Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam dan para sahabatnya. Walaupun hidup dalam lingkungan yang sederhana, pakaian yang tidak menujukkan kemewahan(terbukti Nabi tidak memiliki baju kebesaran layakna raja walaupun separuh dunia pernah dibawah kepempinannya), namun dibalik itu beliau dan sahabatnya memakan makanan yang syarat akan nilai gizi layaknya susu dan daging. Tentunya kita pernah mendengar bahwa Nabi mengkonsumsi madu dan habasauda untuk menjaga kesehatan beliau, tetapi bukankah diceritakan dalam beberapa riwayat bahwa beliau dan istrinya suka memeras susu dari hewan ternaknya untuk diminum. Tidak seperti kebanyakan orang dizaman sekarang, sebagian dari kita berusaha memperbagus bangunan dan model rumah tetapi kadang menyepelekan kebutuhan akan nilai gizi. Bagaimana kita bisa khusu’ dalam beribadah jika kondisi badan kita yang kurang gizi? Bukankah lebih ringan dan mudah dalam beribadah jika tubuh kita dalam kondisi prima?

